Tampilkan postingan dengan label goresanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label goresanku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2015

Alasan untuk Tidak Mudah Percaya

Belakangan, banyak yang mengingatkan hal yang tak seharusnya di ingat lagi, bukan di sengaja, namun suatu kondisi yang menjurus pada hal yang menyiksa itu,


Banyak hal yang membuat hati tak percaya akan seseorangpun, sifat yang berlagak sok baik, yang datang ketika ada maunya dan bermuka dua yang selalu saja menyesakkan.

yaa.. saya bukan orang yang bisa memasang muka polos tak terjadi apa-apa saat saya tidak senang akan suatu hal atau akan seseorang, akan terlihat bagaimana saya tak senang dari wajah.

namun saya heran dengan orang yang bisa menjadi 2 bahkan lebih pribadi yang berbeda setiap saatnya, saat ia bersikap baik saya bahkan percaya dan meng iyakan apa yang dia bilang, namun dia tak sebaik yang saya sangka, nasehat demi nasehat berubah menjadi sindiran-sindiran yang buat dia itu membanggakan dirinya, khalayak banyak yang akan berpendapat bahwa dia adalah orang yang berwibawa, hah.. kebanggaan itu telah menyakiti hati yang kau nasehati,..

jika dia memang tulus memberi nasehat maka cukup hanya kepada yang di nasehati saja, ga harus menjadikan itu sebagai suatu kebanggaan diri yang akhirnya merenggut sebuah kepercayaan..

jadi untuk kamu yang saya sebut "dia" tau bahwa kenapa saya tidak mudah percaya?
saya hanya percaya pada Tuhan dan mama, karena Tuhan ga akan pernah menyesatkan dan mama ga akan pernah membiarkan anaknya melakukan apa yang bersifat buruk,

untuk kamu yang saya sebut "dia" nasehatilah orang yang ingin kamu beri nasehat dengan tulus, memang berharap dia yang kamu nasehati itu yakin akan bangkit dari keterpurukan,jangan gunakan sindiran-sindiran untuknya di khalayak banyak, karena baru saja kamu merenggut kepercayaannya akanmu dan tekanan yang lebih banyak yang dia dapatkan..

untuk kamu yang saya sebut "dia" pahamilah dia yang kamu nasehati.....


Senin, 20 Januari 2014

Setelah Mencoba Tes Personality

Udah lama ya ini blog ga ditulisin.. 

Gadis kesibukan dengan aktifitas kuliah dan kerja makanya ga punya waktu yang begitu banyak untuk bisa muncul disini..  paling cuma buka sebentar aja untuk liat-liat dan blog walking sebentar. Tapi sekarang syukurlah punya waktu yang senggang dikit jadinya bisa muncul lagi...

Tadi gadis kepikiran aja untuk mencoba tes personality, sebelumnya gadis udah pernah menafsirkan juga sih setelah membaca buku Personality Plus, namun karena penasaran aja pengen nyoba tes onlinenya dan hasilnya adalah cocok sama yang gadis tafsirkan waktu baca buku kemarin itu... 

nih hasil-hasilnya....










Nah itu dia hasilnya.. ada beberapa sih yang ga sesuai dengan kenyataannya tapi secara keseluruhan ya begitulah gadis orangnya.. "melankolis" namun menurut buku yang udah di baca ada sedikit sifat plegmatisnya.. haha tapi mungkin yang menonjol cuma melankolis, 

"sensitif" ah biarlah memang gadis orang yang sensitif terhadap perasaan orang-orang yang disayanginya...

that's my personality :)










Senin, 06 Februari 2012

Cinta dan Persahabatan




Dalam hidup kita tak akan bisa sendiri, butuh yang namanya orang tua, teman, sahabat dan seseorang yang bisa membuat hidup bahagia.

 Dan pada postingan kali ini aku akan membagi cerita dari seseorang yang yang terjebak dalam cinta segi tiga dan seseorang yang harus berkorban untuk sahabatnya.

          Dimulai dari perkenalan tak sengaja seorang gadis yang bernama Dea dengan seorang cowok yang bernama Gani, saat itu tak ada yang special, namun seiring berjalannya waktu, Dea merasa bahwa dmuncul suatu perasaan yang tak bisa dia jelaskan, namun saat dia tau bahwa Gani sudah mempunyai pacar, rasanya dia sangat hancur, mencoba menghilangkan perasaan itu, namun apalah daya, rasa yang dia rasakan kian membara.

          Suatu ketika Dea mendengar bahwa Gani telah putus dengan pacarnya, saat itu Gani sering menghubungi Dea, waktu berlalu, Dea sangat ingin mengatakan bahwa dia suka sama Gani, namun dia juga sadar, tak mugkin dia bilang saat Gani sedang hancur-hancurnya karna putus sama pacarnya. 

          Hari demi hari di lalui dengan memendam perasaan, suatu ketika terjadi kesalah pahaman antara Gani dan Dea, dan mungkin saat itu ada perasaan benci Gani pada Dea yang merasa Dea lancang berbicara  padanya.

Saat itulah Dea mulai merasa tersiksa dengan keadaan ini,akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Gani. Hal itu benar- benar dia lakukan. 

 Pada suatu saat,dia bertemu dengan seorang cowok “ Ronald”. Ronald adalah cowok yang perhatian, mulai dari awal perkenalan dengan Dea dia merasakan bahwa ada kecocokan antara dia dan Dea. Setelah sebulan berlalu, sebuah kabar sampai ke telinga Dea bahwa Ronald adalah sahabat dekatnya Gani, orang yang dia sukai dulu, hingga waktu mempertemukan mereka bertiga.

Saat itu Gani merasa bahwa dia telah bertemu kembali dengan orang yang temani dia dulu, namun Gani sadar bahwa Dea adalah orang yang disayangi sahabatnya Ronald, dan tak mungkin dia bisa bersama dengan dea.

Tak disangka, sejak pertemuan Dea dan Gani, Dea merasa cintanya akan gani kembali, tak peduli walau ada Ronald. Waktu menjadi perjalanan mereka bertiga, Ronald yang biasanya selalu perhatian sama Dea, kini berubah menjadi sosok yang egois, berkebalikan dengan Gani, dia mencoba menghubungi Dea lagi, hubungan baik terjalin lagi dan Dea merasa memang Gani orang yang dia cintai. Begitu juga gani yang merasa Dea adalah takdirnya. Dea mencoba meyakinkan gani akan perasaannya, dengan selalu memerhatikan gani, dan Gami juga selalu ada bagi Dea. 

Suatu ketika Ronald mengatakan pada Gani bahwa dia suka pada Dea, dan ingin nembak Dea, saat itu gani hanya bisa diam, tak tau apa yang harus ia katakan pada Ronald, Ronald tampak bahagia, dan Gani tak mungkin merusak kebahagiaan sahabat dia sendiri, dan akhirnya Gani memutuskan untuk merelakan Dea untuk Ronald.

Esoknya, Dea mencoba mengutarakan apa yang dia rasaka pada Gani, namun Gani tak biasa berbuat apa-apa, di satu sisi dia sangat mencintai Dea, namun di sisi lain dia juga punya sahabat yang suka sama dea, akhirnya Gani hanya diam dan Dea jatuh pada lembah kegalauan. 

Seiring berjalannya waktu, melihat tingkah laku Gani dan Ronald, Dea bisa mengambil kesimpulan bahwa Gani tidak mau menyakiti sahabatnya “ Ronald” , tapi apa Gani tidak merasa menyakiti Dea dengan hanya diam ? . sedih rasanya, Gani adalah sosok cowok yang sangat baik di mata Dea, dan Ronald adalah sahabatnya Gani. 

Akhirnya Dea mengambil keputusan untuk menganggap mereka sebagai sahabatnya, meskipun dia sangat mencintai Gani, namun dia tidak mau menyakiti Ronald dan merusak persahabatan Gani dan Ronald, biar dia yang menderita akan posisinya ini, asalkan hubungan antara Dia, Gani dn Ronald baik-baik saja. Begitu juga Gani, biarlah dia memendam perasaan akan Dea, asalkan Ronald tak tersakiti, namun satu yang Gani takutkan, dia takut keputusannya akan sangat menyakiti Dea.... 

End

Keputusan yang sangat bijaksana,namun berakibat pada cinta Dea dan Gani, dua jempol aku berikan pada Gani yang mengambil keputusan yang bijak, dan dua jempol juga aku berikan pada Dea yang sangat mengerti dengan keadaan Gani, semoga kedepannya Dea dan Gani bisa bersatu dan Ronald bisa mendapatkan seseorang yang bisa  menyayanginya juga seperti Dea menyayangi Gani. Sekian postingan kali ini... 


Makasiii udah mampir dan membaca goresan yang nyata ini :)

Selasa, 31 Januari 2012

TITIK CERAH PART 2



Aku beranjak dari tempat dudukku, melangkahkan kaki mengayunkan tongkatku menuju suara si cowok. Aku tak tau pasti ia berada tepat di belakangku atau tidak. Dan lagi-lagi aku mendengar dia berteriak...
“  percuma gue punya semuanya jika ga ada orang yang perhatian sama gue, aghh sialan kalian!!! ” 
ucapnya sangat keras sambil menendang sebuah batu yang ada di depannya.

“ aww, sakitt,,” jeritku saat batu itu mengenai kepalaku.

“ o’o,, sorry...  gue ga sengaja... sakitkah?

“ ya jelas sakit donk..”

“ maaf maaf.. “ 

“ loe yang teriak-teriak tadi ya? Udah ngeganggu suasana di sini, sekarang loe nyelakain gue, aneh loe...” jabarku bawel.

“ terserah gue dong, ini kan tempat umum. Gue mau teriak-teriak,  mau nangis terserah gue, kenapa loe yang sewot sih..”

“ ish loe tu ya...  sombong kali ngomongnya, nyebelin!!!”
“ eh tunggu bentar, kepala loe..?” katanya sambil memegang
kepalaku.
“ ehh.. apaan sih pegang-pegang... ouwghh..”.

“ tu kan, loe bawel sih...  loe tunggu disini ya? Gue mau ke mobil bentar”.

Setelah dia kembali...

“ kita duduk di kursi disana ya?  Gue akan obatin luka loe ”.  katanya perhatian sambil memegang tanganku berjalan menuju sebuah kursi di tepi danau, 

saat dia mengobati luka di kepalaku, aku hanya diam. Seolah-olah mulutku terkunci rapat dan setelah selesai...

“ udah selesai” ucapnya sambil menghela nafas panjang.

“ hmm, makasi yaa, loe udah nolong gue ngobatinnya”

“ iyaa,.. lagian loe terluka juga gara-gara gue, o iya gue fadhil, nama loe siapa?”

“ gue vio” jawabku singkat.
 
“owh, oke... sering kesini kah? Tanyanya lagi.

“ngakk,gue baru pertama kali kesini, ini aja dapat ijinnya susak kali”.

“ kok gitu? Emang tinggal di mana?”.

“ iyaa.. ga di bolehin sama nyokap,alesannya ntar knapa-knapa..  hmm,  di jalan merpati. O iya, sekarang jam brapa sih?”

“ udah jam sebelas”.

“ wahh, gue harus pulang sekarang, loe liat inova silver ga? Bisa panggilkan sopirnya ?” pintaku padanya.

“ oke.. lain kali kesini lagi yaa? “ ucapnya.

“iyaa... mudah-mudahan kita ketemu lagi”

“yap, gue panggilin dulu”

***
Sesampai dirumah, bunda telah menungguku didepan pintu. Tampaknya bunda cemas denganku, apalagi ketika Dia melihat kepalaku. Aku mencoba meyakinkan bunda bahwa ini hany kecelakaan kecil dan aku tidak apa-apa dan syukurlah bunda sedikit lega.

Akupun masuk kamar, ku taruh tongkatku disisi kanan dekat jendela. Saat itu aku kepikiran tentang fadhil, ada sisi yang berbeda pada dirinya, saat aku mendengar dia teriak-teriak, aku berpikiran dia adalah sosok orang yang arogan, egois dan sempat aku berfikir dia adalah seorang psikopat. Tapi saat aku berbicara dengannya,aku ga mau beranjak, yang tadinya aku mau omelin dia, tapi aku jadi lupa semuanya. Ingin sekali aku kembali ke danau dan bertemu dengannya serta bercerita panjang lebar, namun untuk ke danau ga semudah yang ku inginkan,  harus dapatkan ijin dari ayah dan bunda. Bisa pergi ke danau hanya satu caranya... “ Di bantuin kak rena”

***

Sore harinya,kak rena pulang kuliah, aku yang saat itu berada di kamar mendengar  langkah kaki  yang berjalan menuju kamarku. Aku membaringkan badanku dan pura-pura tidur. Dia mendekatiku....

“syukurlah, kamu idak apa-apa vi, tadi kakak cemas kali saat bunda bilang kamu terluka, kakak sayang kamu, kakak ga akan biarkan kamu menderita dan bersedih, kakak janji..”  ucapnya sambil menyela-nyela rambutku.

Aku mendengar kata-katanya dan bersegera bangun...

“ beneran kak, beneran kah itu..” ucapku girang.

“ ehh, udah bangun? Kakak ngeganggu tidur kamu yaa?” 

“ ngak ko kak, hahaha.. sebenarnya  aku ga tidur kok, tadi karna denger ada yang melangkah menuju kesini, aku pura-pura tidur..” jabarku padanya.
 
“ yeeee... jail ya kamu” dia mengacak-acak rambutku.

“ hahaha peace kak, ehh yang tadi itu bener ga kak?”

“ hmm.. ya iya lah vi, kakak mau yang terbaik buat kamu”

“ ahaa.. kebetulan nih, aku juga mau minta tolong sesuatu sama kakak”.

“ apa tu ?”

“ gini kak, tadi di danau aku ketemu cowok namanya fadhil, ntah kenapa aku ingin ketemu dia lagi, nah sekarang kakak tolongin aku ya buat minta ijin lagi sama ayah bunda pegri ke danau, tolong ya kak?”  Pintaku dengan harapan iya mau membantu.

“ cowok ya? Jadi... ceritanya adek kakak jatuh cinta ya? “

“ ahh kakak, bukan... aku hanya ingin kenal dia lebih dekat aja,orangnya susah di tebak”.  Jabarku sok tau.

“ gimana yaa? “

“ayo laa kak, please?” mohonku.
“ iya iya, apa sih yang ngak buat kamu sayang, kamu pergi sama kakak ya ke danau?
Lusa kita pergi, mumpung hari minggu. Kita bisa habiskan waktu seharian di danau dan nungguin siapa tu namanya? Fadhil ya? “ ledeknya.

“ uh kakak ini, oke deh kak, tapi jangan bilang-bilang ayah bunda masalah tadi ya?”

“ sip sayang, udahh... kakak ke kamar dulu, sampai ketemu saat makan malam nanti ya? Sore vi...”

“ iyaaa sore kakak”.

                Kak rena keluar dari kamarku, sekali menoleh dan tersenyum padaku. Saat itu aku sangat bahagia, lusa aku ke danau, berharap ketemu sama fadhil. Aduuhhh... rasanya ga sabaran  nunggu lusa.  Semoga aku bisa ketemu dia di danau, tak peduli jika aku harus menunggu  berapa lama.

****
Dua hari kemudian..

                Hari yang ku tunggu-tunggupun datang, pergi ke danau.

Aku yang biasanya bangun kesiangan tiap hari minggu, sekarang untuk pertama kalinya cepat bagun, bersiap-siap dan stand by di kamar. Kak rena masuk kamar dan mengajaku untuk sarapan.

Saat sarapan, kak rena minta ijin pada ayah dan bunda untuk pergi ke danau denganku, bunda mulai bimbang, bunda hanya  tak mau lagi sesuatu menimpaku, tapi kakak berhasih meyakinkan bunda bahwa dia akan selalu menjagaku, alhasil... bunda mengizinkan,begitu juga ayah.

Selesai sarapan, aku dan kak rena pamit ke danau,masuk mobil dan cabut menuju danau,

Sesampainya di danau...

Minggu, 29 Januari 2012

TITIK CERAH PART 1

      Aku seorang remaja yang di lahirkan sama seperti remaja lainnya,namun satu yang membedakan aku dengan yang lainnya. Awalnya aku tak punya kekuatan untuk  terima suatu kenyataan,kenyata yang merenggut kebahagiaanku, namun kenyataan itu harus aku lawan dalam hidup ini. Aku tau Tuhan selalu memberi  yang terbaik, namun kebahagiaan tak berpihak padaku. Andai  aku bisa memilih, aku akan memilih untuk tidak terlahir sebagai  Vio, Vio Fernanda.


                Vio Fernanda, cewek buta yang hanya menyusahkan Ayah, Bunda dan Kakak. Aku malu sama diriku sendiri, meskipun ada tongkat yang selalu menemaniku kemana-mana, tapi tetap saja aku tidak bisa melihat, padahal hal yang sangat aku inginkan adalah bisa melihat wajah Ayah, Bunda, Kakak dan  melihat indahya alam semesta yang hanya bisa aku rasakan.


                Dulu Bunda pernah bilang, saat aku berumur tiga bulan, terjadi kecelakaan mobil, pecahan kaca mobil masuk ke mataku, namun aku bisa diselamatkan dengan keadaanku yang sekarang, yang kemana-mana harus membawa tongkat.


                Huhhh... takdir tak bisa ku lawan, tapi aku akan tetap berharap suatu saat nanti aku akan bisa melihat, meskipun aku tak tau kapan aku bisa melihat. Tuhan, aku tau kau selalu beri yang terbaik untuk umatmu, tapi aku mohon izinkan aku meminta satu hal padamu. Aku hanya ingin bisa melihat Tuhan, melihat orang-orang sekitarku,melihat matahari, bulan ,bintang,danau, dan segala bentuk ciptaanmu yang indah di orang bilang.
   ***

        Kriiing... kriiing... 05:00 a.m
Aku bangun, suasana dingin yang menyergapi tu­buhku yang kaku, ku raba tongkat besi yang dibelikan ayah saat aku berumur tujuh tahun yang terletak di samping tempat tidurku. Berjalan aku menuju kamat mandi, karna hal ini telah delapan tahun ku jalani, tentu aku hafal jalannya meski aku tak bisa melihat. Selesai mandi, berpakaian, aku menuju ruang makan. Sudah ada di sana Ayah, Bunda dan Renata, kakak tersayangku.


“pagi Vio...” serentak mereka menyapa.


“ pagi.. wah kompak ya semua..” jawabku girang.


“ iya.. ayo Vi duduk sini...” kata Bunda sambil membimbingku duduk.
 

“ Ayah,Bunda.. aku mau minta izin ke danau..” 


“ apa? Janganlah sayang, susah nanti” ayah angkat bicara.


“ ngakk kok yah, aku akan baik-baik saja, cuma sebentarkok...”

“Aku hanya ingin menikmati udara danau yang sejuk meskipun aku tak bisa melihat indahnya danau”


“ ya sudahlah yah, biar Rena nanti yang akan mengantar Vio ke danau”  kata kak Rena


“ tapi re, ntar bahaya buat adik kamu,lagian kan kamu mau kuliah, ntar yang temani Vio siapa? “ bunda mulai cemas.


“ Vio sama Mas Bagus saja Bunda, selesai antar kak Rena kuliah baru ntar Vio ke danau sama dia...”


“ okelah nak, tapi jangan lama-lama yaaa...” sahut ayah

“ iya ayah..” jawabku.


****


Di mobil, tak ada percakapan antara aku dan kak Rena, saat sampai di kampusnya kakak...


“ Vi, kamu bener ngak papa ke danau sama Mas Bagus? “ 


“ iya kak, tenang saja, aku akan baik-baik saja” jawabku sambil tersenyum.


“ okelah, hati-hati ya kamu dan jangan kelamaan di danau, kakak kuliah dulu ya sayang...”


“ sip kakak..” jawabku dengan semangat.


Perjalanan di lanjutkan ke danau, aku meminta mas bagus untuk membimbingku duduk di sebuah kursi di tepi danau, dan dia sendiri  menunggu di mobil.


“ wahhhh... segarnya disin...”


 udara danau yng sejuk di imbangi dengan terik matahari yang lumayan terasa panas mengimbangi  diriku yang berada di danau. Pikiranku terasa sangat tenang, hatiku terasa damai dengan suasana ini. Andai aku bisa melihat mungkin lebih indah rasanya.


“ hey,,, kenapa sih aku, haya bisa menyesali yang terjadi, aku harusnya bersyukur karena masih di beri Tuhan kehidupan sekarang ini” ucapku.


Saat asyik menikmati udara danau nan sejuk, terdengar olehku seorang cowok yang teriak-teriak ngak jelas.


“kenapa gue punya orang tua yang super sibukkk, gue ngak bisa kayak gini, ngak ada yang perhatian sama gue, kalian hanya sibuk dengan bisnis bisnis dan bisnis. Gue muakkk!”
Terdengar kata-kata itu dari sisi belakangku.....


         “ ni orang aneh yaa, ngak bersyukur banget sih, kayaknya ni anak perlu di ceramahin ini “, aku sedikit jengkel.
Lalu......

Minggu, 23 Oktober 2011

cerpen pertama " anugerah"



Pagi ini matahari bersinar dengan sinarnya yang menyinari dunia, dan muncul ke bumi dengan kuasa Tuhan, aku seorang anak remaja yang meratapi langit pagi yang cerah ini dari jendela kamarku. Aku senang sekali melakukan hal itu karena saat itu aku juga meratapi apa yang terjadi padaku.
Dulu hidupku amatlah bahagia, bak seorang Puteri di Istana, selalu disayang dan diperhatikan, apapun yang aku mau akan dipenuhi oleh orang tuaku, namun semua itu lenyaplah sudah setelah kini aku sebatang kara.
Ayah, Ibu dan Risa adikku kini telah tiada, mereka pergi setelah terjadi kecelakaan waktu mereka menuju Vila kami di Puncak, waktu itu aku tidak ikut dikarenakan ada satu perlombaan di sekolah, aku diikutsertakan sehingga aku tidak bisa pergi bersama mereka ke Vila.

Pagi itu aku duduk di ruang tamu, aku teringat akan perkataan Risa sebelum ke Vila “sukses ya kak untuk besok” kemudian Ayah, Ibu dan Risa pergi dan aku tinggal di rumah bersama Bik Rita.
Paginya aku sarapan hanya sendiri tanpa Ayah, Ibu dan Risa.Bik Ritapun tak bisa menemaniku.
Setelah sarapan, aku langsung berangkat sekolah, di sekolah aku mendapat support dari teman-temanku,mereka mendukungku untuk bisa memenangkan lomba desain busana itu.Perlombaan dimulai dengan meriah dan akhirnya, perlombaan berakhir dan semua teman-temanku berteriak karena aku mendapat Juara I. Akupun maju keatas panggung dan menerima piala, setelah itu kuambil ponselku dan dari dalam tas untuk mengabari Risa atas kemenanganku, sambil mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang mengucapkan selamat kepadaku.

Tulisan di layar ponsel membuat mataku terbelalak,delapan puluh sembilan panggilan tidak terjawab,sebanyak itu?
Memang, aku meninggalkan ponselku di tas selama enam jam, tapi siapa saja yang menelpon ia sebanyak itu?
Perasaan tidak enak menyergapi hatiku ketika melihat seluruh panggilan itu hanya berasal dari satu nomor rumahku sendiri! Langsung ku menelpon balik, “Bik Rita kenapa?” Tanganku panik begitu ketika yang menangkat pengasuhku.
“Tuan, mbak, Nyonya sama Risa juga....mobilnya kecelakaan....mereka di rumah sakit,..” suara Bik Rita terdengar parau.
Kepalaku mendadak pening,dengan mobil Refi, temanku,....aku kembali ke rumah, aku gelisah, tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Mobil keluargaku kecelakaan? Kenapa bisa terjadi? Bagaimana kondisi mereka.
Sampai di rumah, aku hanya melongo menatap para tetangga dan teman-teman kantor ayah berkumpul. Tatapan mereka begitu menyiratkan keprihatinan yang dalam, batinku bergejolak. Kalau Risa, Ayah dan Ibu kecelakaan, kenapa mereka memasang wajah seperti itu? Seberapa parah yang dialami keluargaku?
Begitu aku datang, Bik Rita memelukku dan menangis, aku berusaha melepaskan diri dari pelukan. “Bagaimana keadaan mereka Bik?.
“Tuan, Nyonya, dan Risa...”
“Jenazah mereka rusak dan masih di Rumah Sakit,”,,,
mendadak tidak ada lagi yang kuingat selain seruan orang-orang ketika ku jatuh, semua gelap dalam sekejap.
Ketika jenazah mereka datang dan langsung dikuburkan aku menitikkan air mata ketika jenazah Risa dimasukkan ke dalam liang kubur, air mataku yang akan banyak berlinang di tahan ketika dua orang menimbun kembali, aku merasakan pegangan dan sentuhan orang-orang yang berdiri didekatku untuk menguatkanku.
Orang yang datang adalah teman-teman keluargaku tidak ada sanak famili karena kami tinggal di tempat yang jauh. Bahkan setahuku Ibu juga sebatang kara seperti Ayah, karena itu mereka saling menguatkan dalam menapaki hidup. Dan kini....aku juga sebatang kara.
Satu persatu tamu pulang selesai pemakaman rumahku mendadak terasa suram dan dingin karena diliputi suasana sedih kamar menjadi tempatku merenung dan menangis.
“Ayah, Ibu, Aku pasti sangat rindu...”
Lalu pintu kamarku diketuk, Bik Rita memanggil dari luar.
“Mbak Sita, masih ada tamu di depan. Teman Kantor Tuan mingkin.”
Dengan langkah lesu akupun menemui tamunya. Alangkah kaget aku melihat siapa sang tamu.
Seorang laki-laki gemuk yang seumuran dengan ayah menurut penaksiranku, jalan mandar-mandir di ruang tamu, seorang wanita di sampingnya berdandan menor dan rambutnya di jepit jepitan emas, lalu seorang laki-laki muda kira-kira berumur 19 tahun.
Mereka semua memakai baju hitam. Tapi tidak ada raut ‘duka cita’ di wajah ketiga orang itu.
“Selamat sore, hmm, Bapak siapa?” tanyaku sopan sambil berusaha menghilangkan rasa takut.
Laki-laki itu mengulurkan tangan, “saya Arman Azwar, itu istri saya Nyonya Mira dan anak saya Kevin, dia berusaha tersenyum tetapi untukku itu cengiran yang menyeramkan.
“Panas sekali sih Pak. Ruang tamu kok tidak dipasang AC seperti ‘di rumah kita’, kata nyonya Mira mengerutu dan sibuk mengipas.
“Azwar?” tanyaku heran. Kenapa laki-laki ini punya nama yang sama dengan keluargaku?
“Kenapa? Saya adik Bapakmu!”
“Maaf Om, Ayah tidak pernah cerita kalau ia punya adik setahu saya dia anak tunggal”
“Apa? Tidak.....saya ini saudaranya...”
Kalau begitu kenapa Anda baru muncul sekarang dan mengaku sebagai Adik Ayah?”
Laki-laki itu mendekatiku dan tertawa sinis dan berbicara seenaknya tanpa henti, sementara Bik Rita masuk membawa nampan berisi teh.
“Ni orang bodoh, tidak ngerasa apa udara panas gini, jangan kasih kita teh panas dong. Ada sirup tidak?”
Bik Rita menatap diam dan aku tidak kalah terkejut melihak sikap kasar wanita itu. Arman Azwar tidak menghiraukan mereka dan terus berbicara.
“Keluarga Saya dari Bandung kita akan tinggal dulu disini.”
Lalu mereka masuk begitu saja tanpa bisa dicegah lagi.
Dan aku memandangi Kevin yang dari tadi hanya diam, hanya saja dia menatapku dengan pandangan nakal, aku merasa risih dipandangi seperti itu.
“Hmmm, Sita, Sita Azwar, nama yang bagus, sebagus orangnya, temani aku melihat rumahmu yang mewah ini. Lain kali kita bisa bersenang-senang berdua”.
Kevin meraba bahuku namun aku mengelak.
“Maaf, aku tidak bisa...”
Dia memandangku sinis dan masuk ke dalam.
Sejak saat itu, rumah seperti neraka bagiku semua yang dilakukan salah, sampai akhirnya Bik Rita melakukan satu kesalahan dan Bu Mira mengusirnya.
Aku sedih, dan aku takut, jika Bik Rita pergi lalu aku gimana?
Lalu Bik Rita memintaku untuk ikut dengannya dan karena aku tak tahan lagi, aku pergi dari rumah, aku meninggalkan segala kemewahan itu.
Kamipun pergi….
Bik Rita membawaku ke sebuah Panti Asuhan, yaitu Panti Asuhan Bunda, tempat ku berada sekarang.
Dan disinilah aku hidup sekarang, walau hidupku tak seperti dulu lagi, tapi aku bahagia, hidupku tidak dikekang oleh orang lain, disini aku punya banyak Saudara, meski bukan saudara kandung, namun kami selalu mendukung satu sama lain, saling mengisi, saling bantu dalam hal apapun.
Namun walau sekarang aku sudah tidak di rumah ku lagi, namun untuk sekolah aku tidak mau pindah, dan disini awal dari perjuanganku, aku akan melakukan apa saja untuk sekolah, apapun, yang penting aku tetap sekolah dan meraih yang terbaik.
Suatu malam yang dingin, tak ada bulan ataupun bintang yang tampak, aku merasa sangat letih setelah tadi siang sekolah, lalu bantu Ibu Panti dan Bik Rita dan harus belajar tadinya.
Aku mencoba memejamkan mataku, akupun terlelap ditidurku di malam itu, lelapan yang sangat panjang, membuat tidurku sangat nyenyak.
Subuh datang, pancaran matahari mulai bergerak lagi, aku bangun dan bersiap untuk ke sekolah, setelah semuanya beres, aku sejenak membantu Bik Rita menyiapkan sarapan untuk anak panti, Bik Rita adalah teman dari Bu Mela Pemilik Panti, dan Bik Rita berniat membantu di Panti supaya Bu Mela tidak kerepotan. Setelah semuanya selesai, aku berangkat ke sekolah.
Ini hari pertama dimana aku masuk sekolah bukan seperti Sita yang dulu lagi, bukan sebagai Sita yang hidup mewah….bukan Sita yang hidupnya bagai seorang Putri.
Tapi sekarang aku hanya Sita yang hanya anak Yatim Piatu yang tinggal di Panti Asuhan
Namun sekarang aku harus bisa merubah semuanya….Semua pasti ada hikmahnya.Dibalik cobaan pasti ada nikmat.
Kata-kata itu mengingatkanku pada Ibu yang dulu sering menasehatiku
Kakikupun kulangkahkan dan pergi kesekolah dengan angkot yang lewat di depan panti. Sesampai di sekolah, aku langsung menuju kelasku, teman-teman disekolah menatapku seolah-olah mereka iba padaku. Namun aku mencoba tersenyum seperti tak terjadi apa-apa.
Aku duduk di kursiku dan membuka buku pelajaran, Refi, Fani dan Rian mendekatiku, mereka adalah teman baikku.
“Ta, apa kamu baik-baik saja?” tanya Fani padaku.
“Hmmm....! ya..hari ini hari yang cerah bukan....”
Jawabku sambil tersenyum walau hatiku sedikit gundah.
Mereka hanya tersenyum, sudah ada makna tersirat disenyuman mereka padaku.
Bel berbunyi…pelajaran dimulai sampai jam istirahat dan bel pulang.
Tak seperti biasanya, dulu pulang sekolah aku pergi main bersama teman-teman, tapi untuk sekarang aku langsung pulang ke Panti.
Di Panti aku mencoba untuk tidak membuang-buang waktuku, pulang skeolah, aku istirahat sejenak sambil belajar, setelah itu, sorenya aku membantu Bik Rita di dapur dan setelah makan malam aku belajar lagi.
Sepertinya waktuku hanya habis untuk belajar. setiap hari ku jalani seperti itu, dan hasilnyapun kudapat, aku bisa meraih peringkat pertama di kelas dan aku sangat bahagia karena aku bisa mendapatkan beasiswa yang artinya aku bisa bersekolah tanpa merepotkan Pengurus Panti.
Untuk mempertahankan itu, aku harus lebih rajin lagi belajar, setiap hari hanya ku habiskan untuk belajar sampai-sampai kesehatanku tak terkontrol lagi.
Suatu saat di sekolah, pada saat jam istirahat aku menuju sebuah taman untuk membaca buka. Namun tiba-tiba aku jatuh dan semuanya gelap dalam sekejap
Tak lama setelah itu aku membuka kedua kelapak mataku, aku sudah berada di ruangan yang serba putih.
Aku melihat ketiga sahabatku ada disampingku dan seorang dokter. Aku segera bangun, beranjak dari tempat tidur, namun mereka melarangku.
Tak lama kemudian, Bu Mela dan Bik Rita datang dengan wajah yang sedih, mereka sepertinya khawatir dengan keadaanku.
“Iki piye, ono opo Neng?” Tanya Bu Mela.
“Apa erek, po opo..kan?” diteruskan lagi oleh Buk Rita.
“Aku baik-baik saja Bik, cuma pusing saja”
Kemudian Dokter memanggil Bik Rita dan Bu Mela, mereka keluar dan aku ditinggal dengan teman-temanku.
Setelah dua hari di Rumah Sakit aku kembali ke Panti dan besoknya aku mulai bersekolah seperti biasa
Sehari setelah itu, Panti kedatangan tamu yaitu sepasang suami istri yang sepertinya sudah lama menikah, mereka memasuki ruangan Ibu Mela dan Aku mengambilkan teh untuk mereka. Akupun masuk ke ruangan Bu Mela dan meletakkan tiga cankir teh, tak sengaja aku menatap mata Ibu yang datang itu, aku terdiam dan tersenyum padanya, kemudian aku pamit keluar, tapi....
“Tunggu nak...nama kamu siapa?”
“Hmmm, saya Sita Buk.”
“Sita, nama yang cantik”
“Makasih Bu, saya permisi keluar”
“Hmmm...ya”
Setelah lama berbincang-bincang merekapun keluar dari panti
Kemudian aku dipanggil oleh Ibu Panti dan duduk.
“Ta, kamu lihat Bapak dan Ibu tadi bukan?”
“Iya bu, ada apa?”
“Mereka ingin mengadopsimu, Ibu sudah ceritakan semua tentangmu, dan mereka mau kamu jadi anak mereka, kamu mau Ta?”
“Hmm..maaf Bu, Ta tidak bisa memutuskan itu sekarang, Ta butuh waktu”
“Iya...iya..., kamu pikirkan dulu lah”
Akupun pamit keluar dan memikirkan apa kata Bu Mela.
Besoknya sebelum pergi ke sekolah aku menemui Ibu Panti untuk mengatakan keputusanku.
“Ibu...maaf, apa Ta menganggu?
“Tidak Ta...ada apa?
“Hmmm, anu Bu, soal yang kemaren, Ta akan coba bu, Ta mau..”
“Ya syukurlah. Pagi ini rencananya mereka akan datang kesini, jadi nanti setelah pulang sekolah kamu langsung pulang ya Ta?”
“Iya Bu”
Aku pamit dan pergi ke sekolah, lalu pulangnya Aku langsung ke Panti, sesampai di Panti aku bertemu dengan pasangan itu lagi, lalu mereka mengajakku untuk membereskan barang-barangku dan pindah ke rumah mereka.
Setelah selesai beres-beres aku pamit pada Bu Mela dan juga Bik Rita.
Aku pergi bersama mereka
Sesampai di rumah mereka aku melihat sekelilingku, rumahnya besar dan tamannya sangat luas, banyak bunga-bunga yang indah.
Aku dibawa masuk dan diberi kamar yang sangat besar, lebih besar dari kamar di rumahku dulu.
Setiap hari, hari-hariku sangat bahagia, mereka sangat baik padaku. Namun keasyikan akan belajar tetap kujalani dan aku juga sering pingsan dan masuk rumah sakit.
Sepertinya mereka tahu apa yang terjadi padaku namun sepertinya mereka merahasiakannya.
Suatu saat aku mencoba menanyakan hal itu pada mereka dan mereka memberitahukan dengan rasa berat hati.
Ternyata aku menderita gagal ginjal, namun belum terlalu parah, saat mendengar itu darahku.
Seolah-olah mendesir cepat dan detak jantungnya sangat kuat. Aku seolah tak percaya apa yang terjadi padaku. Namun mereka tetap menasehatiku dan memintaku. Untuk mau cuci darah untuk menyembuhkan penyakitku.
Akhirnya, aku menyalani cuci darah satu kali dalam sebulan, dan akupun setiap malam berdoa semoga penyakitku sembuh.
Setelah enam bulan berlalu, akupun dinyatakan sembuh. Aku sangat bahagia, orang yang telah merawatnya yang sekarang kupanggil Ayah, kupanggil Ibu sangat senang mendengarnya.
Karena berkat Tuhan, kasih sayang Ayah dan Ibu dan kepantang menyerahanku aku bisa sembuh, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untukkku, orangtuaku, teman-temanku dan juga mungkin keluargaku yang sudah berada di surga.
Dua hari kemudian.....
aku mendapat telepon dari Panti Asuhan Bik Rita. Bik Rita mengatakan bahwa orang yang mengaku-ngaku adiknya Ayah, ternyata bukan adik Ayah. Mereka adalah penipu yang dulu pernah dendam sama ayah.
Aku disuruh kembali ke rumah, namun jika aku kembali bagaimana dengan Ayah dan Ibu Angkatku? Aku sudah sangat sayang sama mereka dan aku memutuskan untuk tetap tinggal bersama mereka, dan rumahku dijadikan tempat tinggal untuk anak-anak Panti dan akan diurus oleh Bik Rita dan Bu Mela.
Kebahagiaan yang kuraih sangat luar biasa. Aku tidak menyangka semua akan kembali lagi. Oh Tuhan terima kasih atas semua kebahagiaan yang telah Engkau berikan padaku. Nikmatmu sangat luar biasa.